DARI arah kawasan Jetis, Vario-ku langsung masuk teras Warung nDesit, warung nasi pecel - sego jagung-ku. Saat itu Minggu Legi, 6 Maret 2022, sekira jam 13.00.
Di jam-jam itu, seperti biasa, kita mulai ancang-ancang nutup warung, yang lokasinya di Jalan Raya Canggu-Jetis, utara Pasar Pelabuhan Canggu, Kabupaten Mojokerto. Kalau pun ada pembeli untuk makan siang, biasanya satu-dua orang.
Dan benar, ada satu orang pria nongkrong di dingklik kanan depan. Melihatku datang dan markir motor matic, dia tertawa sambil menaikkan maskernya hingga menutupi separo lebih wajahnya.
Aku mencoba mengingat, sambil melihat sebagian wajah yang tak tertutup masker, masih juga belum ingat siapa dia.
Melihat aku cengar-cengir, istri dan ewang warung ketawa ketiwi, yang membuatku makin penasaran. "Lali yo," kata pria tadi, sambil melepas masker dan topinya. Melihat senyum khas dan kepala agak botak, segera pulih ingatanku.
"Gito," setengah berteriak aku mendekat dan menyalaminya erat. "Karo sopo Git."
"Karo Havid. Dek-e metu diluk nang tukang las," jawabnya.
Ngobrol-lah kami kemudian, ngalor-ngidul. Maklum, sekitar 16 tahun ndak lagi seatap tempat kerja. Dia dulu sekantor saat aku masih kerja di Koran Surya, salah satu media di bawah KKG (Kelompok Kompas Gramedia).
Obrolan makin gayeng saat Havid datang. Tentu saja, masih seperti dulu, sambil ngopi ro ngudut... Obrolan kelompok Mansur alias Mantan Surya.
Terakhir aku resign tahun 2006-an, Gito di bagian "Copy Boy", dan Havid di "pracetak". Aku saat itu didapuk jadi wakil redaktur di salah satu desk. Kantornya ada di Margorejo Indah, Surabaya.
Gito sekarang tinggal di kawasan Medokan, Surabaya, sedang Havid, di Perum Japan Raya, Sooko, Kabupaten Mojokerto.
Sampai jelang Ashar, obrolan ndak ada putusnya, dari satu topik ke topik lainnya. "Yo wis, kapan-kapan dilanjut maneh. Nuruti kangen, gak onok marine," kata Havid, yang kemudian ngajak foto bareng, sebelum pulang. (pri)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar