Senin, 11 Maret 2013

Air Mengalir

DI suatu siang, hari ketiga liburan itu, Hanung memainkan air yang bergemericik mengalir, dengan kedua kakinya.

"Kamu pasti ingat, Pras, 30-an tahun yang lalu. Kita sering mandi di sungai kecil ini," kata Hanung, sambil memperhatikan beberapa anak kecil mandi, dan bermain-main dengan air sungai, tak jauh darinya.

"Sekarang, sungai ini tetap tidak berubah. Airnya yang jernih masih mengalir di antara bebatuan," kali ini dia mengarahkan pandangan ke Prasojo.

"Benar, Han. Dia masih seperti dulu. Dia, selalu mencari tempat rendah, serendah-rendahnya. Dia, selalu menghindar dari batu-batu penghadang," ujar Prasojo, sambil masuk sungai dangkal itu, lantas membasuh muka dengan kedua tangannya.

"Dia sepertinya liar mengalir, Han, tapi bukan tanpa arah. Dia akan diam jika sudah menemukan keheningan. Dia akan diam jika sudah bisa bersetubuh dengan kekosongan. Bagi dia, kosong adalah selimut ketenangan," ucap Prasojo, yang wajahnya tampak segar setelah berbasuh air jernih.

Hingga menjelang senja, keduanya memuaskan diri menikmati air sungai yang mengalir di dekat desa mereka itu. Air yang masih setia mengalir sejak mereka masih kecil, bahkan jauh sebelum nenek moyang mereka tinggal di desa ini. (pri)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nek Ngombe, Yo Kopi...

Pak Abu, sapaannya, tahun depan genap berusia 70 tahun. Bakul tahu ini tinggal di Dusun Tanjung, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Mojokerto Kab...